Regina Helena Barbosa Tavares Silva*Ana Paula Dias Ribeiro*Alma Blacida Conception Elisaur Catirze* Lígia Antunes Pereira Pinelli* Laisa Maria Grassi Fais*
Abstrak
Tujuan : menyelidiki biokompabilitas bahan restorasi terhadap keberhasilan sifat klinis, daya tahan dan estetik yang lebih baik pada beberapa tipe keramik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tampilan keramik inlay/onlay setelah 40 bulan. Metode: tiga puluh restorasi keramik indirek diletakkan pada 10 pasien dan dilekatkan menggunakan semen adhesif dan resin dual semen. Tampilan klinis dievaluasi dengan menggunakan pengamat kalibrasi yang dilengkapi skor Cvar dan Ryge dengan criteria : warna, adaptasi tepi, abrasi, karies berulang, fraktur dan nyeri setelah operasi. Aturan ini antara lain terjadi setelah proses sementasi dari restorasi (T0=baseline) dan setelah 4 periode T1( 10 bulan), T2 (20 bulan), T3 (30 bulan),dan T4 (40 bulan). Foto dibuat pada T0 dan T4 untuk menggambarkan kondisi umum tiap restorasi. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskall Wallis (p=0.05) dan hasilnya menggunakan nilai persen. Hasil: evaluasi klinis menyatakan tidak ada perubahan warna atau abrasi (100%); rata-rata keberhasilan 96.7% untuk karies, fraktur dan nyeri post operasi; dan 76,7% kegagalan adaptasi tepi. Kesimpulan: restorasi keramik tidak menunjukkan perubahan yang dapat menghasilkan penggantian, meskipun terdapat kerusakan sedang pada adaptasi tepi.
Kata kunci: bahan kedokteran gigi, inlay, onlay, percobaan klinis.
Pendahuluan
Restorasi ideal berperan penting terhadap perkembangan berbagai teknik dan bahan restorasi. Meskipun campuran logam digunakan karena sifat psikomekaniknya,banyak upaya yang dilakukan untuk memberikan tampilan klinis yang lebih baik sehingga memenuhi persyaratan dan memenuhi harapan estetik pasien. Pasien sering mengharapkan restorasi yang mempunyai karakteristik sama dengan struktur gigi seperti warna, kecerahan, dan tekstur luar selain itu harga murah dan daya tahan tinggi. Hal ini paling banyak ditemukan pada bahan komposit dan restorasi non metal keramik.
Bahan keramik memiliki sifat rapuh dengan kekuatan kompressif tinggi, tetapi mempunyai kekuatan flexural dan kekerasan fraktur rendah. Namun, kerugian utama dari bahan ini adalah berpotensial tinggi terhadap pemakaian email atau resin restorsi pada gigi antagonis Komposisi keramik terbaru menunjukkan kemampuan abrasi email gigi sama dengan pada gigi asli, yang artinya bahwa bahan tersebut mempunyai reaksi agresif rendah. Selain itu, jika dibandingkan dengan restorasi metal-alloy,bahan ini lebih biokompatibel terhadap jaringan pulpa dan periodontal, kurangnya akumulasi biofilm terhadp email, serta transfer panas dan listrik kurang.
Teknik restorasi keramik gigi juga telah mengalami peningkatan secara signifikan tertuma dalam hal adaptasi karena perkembangan sistem adhesifnya. Kemajuan resin dual-cure cement yang digabungkan dengan bahan adhesif terbaru menunjukkan kemajuan signifikan semen adhesif, hingga mengoptimalisasi retensi dan stabilitas restorasi keramik. Meskipun semua keuntungan ini, daya tahan dan keberhasilan tipe restorasi ini bergantung pada ketepatan indikasi, pengalaman klinis operator dan keakuratan kerja para teknisi labolatorium.
Karena hanya sedikit penelitian klinis jangka panjang yang dilakukan kontrol, hal ini menarik perhatian untuk menilai langsung tampakan klinis restorasi inlay/onlay setelah 40 bulan menggunakan evaluasi langsung. Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam indikasi keramik dalam hal mengembalikan kondisi normal gigi sehingga mendukung reintegrasi sistem stomatognasi.
Bahan dan metode
Subjek penelitian ini dipilih dari sepuluh mahasiswa prasarjana Sekolah Kedokteran Gigi Araraquara, Sao Paulo State University umur 18 hingga 21 tahun. Sukarelawan harus mempunyai kesamaan kondisi gigi, kebiasaan, diet, umur, dan indikasi untuk restorasi adhesive. Pasien dengan kebiasaan parafungsional, oral hygiene dan kondisi periodontal buruk tidak dimasukkan dalam kriteria subjek. Pasien diberitahu aturan penelitian dan bersedia datang kembali setelah 40 bulan
Tiga puluh restorasi keramik ( 12 onlay dan 18 inlay ) ditempatkan pada 6 premolar rahang atas, 8 molar rahang atas, 4 premolar rahang bawah dan 12 molar rahang bawah. Kavitas termasuk preparasi O (12), MO (4), OD(3), MOD(6), MOL(1), MODV(2) dan MODL (2). Pengukuran professional disiapkan pada gigi posterior untuk restorasi indirek keramik inlay/onlay menggunakan bur diamond taper dan bulat. Jaringan karies dihilangkan dengan eskavasi dan dentin-pulpa kompleks diberi pelapik pulpa kalsium hidrokside dan glass ionomer cements pada karies yang dalam. Semua kavitas disiapkan berdasarkan prinsip inlay/onlay adhesif, yang termasuk pengurangan oklusal 1.5-2.0 mm, dengan isthmus mengelilingi sudut internal dan dinding axial dengan ketebalan 1.5 mm. Tepi gingiva dipreparasi seutuhnya jika memungkinkan pada semento-enamel junction. Sendok cetak digunakan untuk mencetak rahang penuh tahap pertama menggunakan vinyl polysiloxane dan cetakan antagonisnya menggunakan alginat. Model kerja ditempatkan pada articulator adjustable dan semua inlay/onlay dibuat oleh tekhnisi gigi sesuai dengan instruksi pembuatan.
Restorasi dievaluasi dan bila perlu dilakukan penyesuain dengan bur diamond dan fine-grain diamond discs. Kesesuaian restorasi dipolis dengan aluminium oxide discs. Dikilapkan dengan pumice dan enhance abrasive rubbers. Menggunakan rubber dam, email di etsa dengan 37% phosphoric acid gel selama 30 detik dan setelah itu dilanjutkan dengan etsa dentin selama 10 detik. Lalu, Syntac Primer diaplikasikan selama 15 pada dentin dan disemprot menggunakan air syringe. Kemudian Syntac Adhesive diaplikasikan selama 10 detik pada kavitas dan dikeringkan dengan udara. Restorasi disementasi menggunakan Dual Cement berdasarkan instruksi pabrik. Polimerisasi terbentuk dengan mengaplikasikan cahaya halogenb selama dua puluh detik pada setiap permukaan gigi dengan rata-rata 500mW/cm3. Kontak oklusal dicek dan bila perlu gigi disesuaikan menggunakan diamond rotary cutting instruments. Pemolesan akhir dilakukan menggunakan F dan FF diamond finishing rotary cutting instruments dan Rubbers dan disk kasar dengan polishing diamond slurry.
Semua restorasi, dievaluasi secara klinik pada empat periode selama 40 bulan. Periode tersebut antara lain : T1 ( 10 bulan ), T2 ( 20 bulan ), T3 ( 30 bulan), dan T4 ( 40 bulan). Semua restorasi T0 ( baseline) dianggap memuaskan dan mendapatkan nilai tinggi untuk setiap variabel. Gambaran foto dibuat diambil menggunakan kamera merk Dental Eye II mempunyai kemampuan maksimal yang hanya menggambarkan kondisi umum setiap restorasi.
Evaluasi klinis dilakukan menggunakan sonde dan kaca mulut, pada gigi dan restorasi yang sebelumnya telah dikeringkan. Variabel yang dilihat diantaranya: warna, adaptasi tepi, abrasi, karies rekuren, fraktur dan nyeri post operasi. Semua restorasi menerima nilai berdasarkan kriteria Cvar dan Ryge ( tabel 1)
Table 1. Kriteria yang digunakan untuk evaluasi klinis keramik inlay/onlay
Karakteristik inlay/onlay | A | B | C |
Warna Adaptasi tepi Abrasi Rekurensi Karies Fraktur Nyeri postoperasi | Warna kompatibel Adaptasi tepi baik Tidak ada abrasi Tidak ada sekunder karies Tidak ada fraktur Tidak ada nyeri | Perubahan warna hingga rentang warna yang masih dapat diterima Perubahan adaptasi tepi: tidak terlihat celah dimana sonde dapat masuk Ada abrasi : hilangnya bahan,tapi dentin atau dasar tidak cukup terlihat Terlihat sekunder karies Terlihat fraktur tepi Ada | Defek warna parah dan tidak dapat diterima Defek Adaptasi tepi parah: sonde masuk ke bagian celah yang memperlihatkan kedalaman dentin Ada abrasi :bahan yang hilang cukup untuk menampakkan dentin Terlihat fraktur badan restorasi |
*defek parah yang mengindikasikan penggantian restorasi
Hasil
Reevaluasi klinis setelah 40 bulan mempunyai rata-rata 100%. Uji Kruskal-wallis dilakukan (p=0.05) untuk mengevaluasi tampilan klinis keramik inlay/onlay selama 40 bulan. Tidak terdapat perbedaan signifikan yang diamati antara periode (T1,T2,T3,T4)(tabel.2).
Tabel 2. Hasil statistic Uji Kruskall Wallis
Periode evaluasi | Median |
T1 T2 T3 T4 Statistik : 6.41 | 24.8 27.5 29.8 39.9 Nilai P: 0.0933 |
Hasil yang diamati pada evaluasi klinis untuk keramik inlay/onlay selama periode T1,T2,T3, dan T4 terlihat pada tabel 3. Selama evaluasi 40 bulan, tidak ada perubahan warna atau terjadi abrasi. Fraktur dan sekunder karies terjadi hanya pada satu restorasi,sesuai dengan persentase 3,3% dimana indeks keberhasilan 96.7% . Nyeri postoperasi 20% pada kasus ini, pada evaluasi periode T1. Meskipun nyeri post operasi tidak tampak pada T4, yang memperlihatkan indeks keberhasilan 100% pada periode ini.
Tabel.3 Evaluasi klinis restorasi keramik

Tingkat kesuksesan tidak terlihat pada adaptasi tepi. Dua puluh tiga restorasi (76.7%) tampak perubahan pada permukaan restorasi/gigi. Perubahan ini terjadi pada bulan pertama pemakaian dan level sama yang dipertahankan setelah evaluasi periode pertama T1 hingga analisis T4. Gambar 1 dan 2 menunjukkan kondisi umum restorasi pada T0 da T4.

Gambar 1. Foto keramik inlay yang langsung diambil setelah sementasi. Restorasi dianggap memuaskan dan nilai skor tinggi dalam hal warna, adaptasi marginal, abrasi, rekurensi karies, fraktur dan nyeri postoperasi

Gambar 2. Foto keramik inlay yang dievaluasi setelah 40 bulan (T4). Restorasi dipertahankan untuk setiap kategori penilaian dan kepuasan lanjutan
Diskusi
Evaluasi tampilan klinis sistem restorasi keramik hingga periode 40 bulan menunjukkan tingginya rata-rata keberhasilan dari berbagai variabel yang diteliti berdasarkan literature (warna, adaptasi tepi , abrasi, sekunder karies, fraktur dan nyeri postoperatif). Meskipun sistem ini mempunyai teknik yang cukup komlpleks dan harga mahal, restorasi ini menghasilkan estetik yang baik dan resistensi mekanik, selain itu biokompabilitas baik bila dibandingkan bahan restorasi lainnya. Pada beberapa tahun ini,gambaran ini mendukung tingginya kualitas tampilan restorasi keramik dan didukung oleh professional.
Disamping tingkat keberhasilannya, daya tahan restorasi keramik seharusnya dikontrol dengan hati-hati, diantara banyak faktor yang berperan baik positif maupun negatif. Mengenai hal ini, faktor yang paling sering adalah fraktur restorasi, hipersensitif, kehilangan retensi dan fraktur dari gigi yang direstorasi. Molin dan Karson melaporkan bahwa faktor-faktor ini dapat berasal dari ketidakcocokan, tekanan oklusal, desain kavitas yang salah dan teknik sementasi yang tidak sempurna
Diantara tiga puluh (33%) restorasi yang diteliti pada penelitian klinis ini, fraktur terjadi hanya selama periode analisa. Friabilitas adalah ciri khas restorasi keramik dan hal inilah yang berpengaruh langsung pada durabilitasnya. Fraktur keramik berhubungan dengan preparasi gigi, gangguan occlusal adjustment pada permukaan dan kegagalan bahan. Tagtekin et.al (2009) menemukan bahwa fraktur restorasi keramik biasanya sering terjadi pada 6 hingga 8 bulan pertama, dan hasil dari penelitian ini sependapat dengan penemuan ini. Fraktur yang diamati pada penelitian ini bisa disebabkan karena occlusal adjustment yang dilakukan setelah sementasi, meskipun restorasi lain juga disesuaikan. Kesesuaian ini bisa disebabkan karena gangguan glazed layer permukaan, memperluas fraktur kecil yang mengakibatkan titik retak. Beberapa perawatan khusus seperti preparasi yang adekuat dan teknik adhesi untuk sementasi harus dilakukan dalam menghadapi permasalahan seperti occlusal adjustment yang dihubungkan dengan keseimbangan oklusi. Penggunaan resin semen memberikan integritas yang lebih baik antara gigi dan restorasi, dalam hal memindahkan tekanan eksternal ke dentin. Karena itu, terjadinya peningkatan resistensi keramik kemungkinan diperoleh dari meningkatnya durabilitas klinis restorasi ini.
Hasil penelitian ini dengan jelas menunjukkan bahwa masalah utama pada situasi ini berada pada tepi antara restorasi dan struktur gigi. Kramer dan Frakenberg melaporkan bahwa percobaan klinis menilai keramik inlay menyatakan beberapa keburukan kualitas marginal. Hal ini mungkin disebabkan oleh tidak cukupnya bonding email atau degradasi dari lutting agent disebabkan oleh fatigue. Karena itu, adaptasi yang baik dari struktur gigi terhadap restorasi sangat penting, termasuk sudut dan external cavosurface margins. Hasil negative diamati pada adaptasi tepi yang terjadi pada bulan pertama dan menunjukkan tendensi tetap pada level sama (76.7%) hingga analis akhir (40 bulan). Kenyataan ini jelas menunjukkan bahwa perhatian utama dari jenis restorasi ini harus menjadi adaptasi awal dan friabilitas bahan sementasi dan bulan pertama penggunaan, sama baiknya dengan bahan dan teknik yang digunakan untuk semen restorasi ini. Hasilnya juga diamati dalam penelitian klinis lainnya. Dimana adaptasi marginal merupakan faktor yang memberikan lebih banyak perubahan pada restorasi keramik indirek. Bagaimapun, Lange dan Pfeiffer menunjukkan bahwa 93% inlay keramik dinilai” adaptasi marginal setelah 57 bulan evaluasi, dan 7% lainnya tidak perlu penempatan ulang. Penyatuan yang tidak sempurna akibat polimerisasi yang tidak lengkap dari resin semen, yang disebabkan oleh rendahnya resistensi beberapa semen, kurangnya asam dan perawatan silane terhadap permukaan internal restorasi, tidak adanya bahan adesif, dan /atau kemungkinan pecahnya yang terjadi pada bahan adesif selama periode penggunaan klinis dan aksi terhadap muatan oklusal, terutama pada pasien bruxism.
Nyeri post operasi termasuk perubahan kedua yang lebih sering terjadi. Hipersensitif keramik post operasi awalnya dilaporkan sebagai suatu masalah yang disebabkan oleh dentin yang dilapisi secara tidak sempurna ataupun pemisahan antara bahan dengan dentin. Hal ini merupakan kejadian yang umum pada banyak kasus, termasuk karakteristik yang transitory dan secara langsung dihubungkan dengan wet technique dentin hybridization , yang digunakan dalam penelitian ini. Keperluan penempatan ulang restorasi jarang, sesuai dengan yang terjadi dalam penelitian ini.
Salah satu keterbatasan penelitian saat ini mungkin disebabkan oleh periode 40 bulan yang tidak sesuai dengan munculnya perubahan klinis yang jelas. Walaupun demikian, penelitian saat ini, tampilan klinis yang baik dari inlay/onlay keramik diamati pada evaluasi waktu yang lebih lama. Akhirnya, hal ini dianggap bahwa hasil yang baik mungkin dipengaruhi oleh pasien yang terpilih. Namun demikian, dapat diperhatikan bahwa, meskipun tidak diperoleh hasil yang signifikan secara statistik, terdapat sedikit kecenderungan rusaknya restorasi seiring berjalannya waktu. Hal tersebut menunjukkan bahwa analisis jangka panjang kemungkinan dapat menunjukkan perubahan kritis yang membutuhkan pergantian restorasi.
Selain hasil yang baik diperoleh dalam penelitian saat ini, penyelidikan klinis jangka panjang dibutuhkan untuk memperoleh informasi in situ pada tampilan bahan keramik. Juga penting untuk meneliti dan memperbaiki permukaan restorasi gigi., karena keberhasilan klinis dari inlay/onlay keramik bergantung pada kemampuan untuk memperoleh bonding yang nyata dari komposit terhadap jaringan gigi.
Penelitian ini mengevaluasi 30 inlay dan onlay keramik dan tak ada satupun diantaranya yang menunjukkan adanya perubahan yang dapat mengindikasikan penempatan ulang, meskipun terdapat kegagalan yang sedang dari adaptasi tepi. Dalam keterbatasan desain dan evaluasi waktu dari penyelidikan ini, teknik restorasi tampaknya dapat diterima secara klinis sebagai metode perawatan estetik dan konservatif pada restorasi molar dan premolar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar