Amparo Castañer Peiro.Lecturer in Orthodontics. Health Care, Public Health and Veterinary Health Department. Cardenal Herrera-CEU University. Alfara del Patriarca. Valencia
Abstrak
Crossbite merupakan maloklusi pada dataran transversal maxilla dan didefinisikan sebagai perubahan posisi yang tepat dari cups palatal molar maxilla atas berkontak dengan pit molar satu mandibula dan premolar.
Perubahan transversal sering terlihat pada praktek gigi umum dan hal ini penting untuk menentukan diagnosis banding yang tepat, guna merencanakan perawatan yang akan mencapai hasil yang efisien paling stabil. Kelainan skeletal, dentoalveolar dan dental, semuanya harus dibedakan, seperti perawatan yang berbeda dengan alat ortho yang berbeda .
Artikel ini bertujuan untuk menyajikan pedoman diagnosis pasti dari anomali transversal dan untuk memilih alat ortho yang paling cocok untuk setiap kasus.
Kata Kunci : Anomali Transversal, crossbite unilateral, crossbite bilateral, Quad Helix, Haas Expander
Pendahuluan
Crossbite didefinisikan sebagai oklusi antara cups bukal dari molar satu maxilla dan premolar dengan pit molar satu dan premolar mandibula.
Frekuensi crossbite yang terlihat di klinik gigi beragam antara 1% dan 23%, bergantung pada perbedaan penelitian. Frekuensi gigi yang paling sering adalah crossbite anterior sekitar 6-7%, diikuti dengan unilateral crossbite sekitar 4-5% dan terakhir, bilateral crossbite sekitar 1,5%-6,5%.1 Frekuensi crossbite tidak dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin.
Pada tahun 1899 Angle mengemukakan pertama kalinya klasifikasi maloklusi, tetapi meskipun klasifikasinya telah diterima diseluruh dunia, klasifikasi ini hanya melakukan pengukuran anterior posterior.2 Sebagai hasilnya pada tahun 1921 Hellman menyatakan bahwa cups mesiobukal memegang peranan penting pada Angle klas I terutama posisi cups mesiopalatal berada pada pit sentral moral satu mandibula.3 Meskipun begitu, Paul W Simon, tahun 1926 yang menemukan klasifikasi pada tiga dataran spatial; anterior-posterior, transversal dan vertical.3 Klasifikasi yang diusulkan oleh Schwarz terdiri dari 6 kelompok dan sub kelompoknya masing-masing. Masih banyak lagi klasifikasi maloklusi yang dapat diperoleh. Kemudian banyak klasifikasi telah ditetapkan, tetapi tidak pada tahun 2002, Lorente3 menetapkan pertama kali klasifikasi perubahan transversal yang menghitung kompensasi dentoalveolar dan menghubungkannya ke dalam ukuran mandibula.
Setelah mengklasifikasikan crossbite posterior, perawatan ekspansi yang paling cocok harus dipilih. Ekspansi maxilla untuk merawat diskrepansi tulang dan gigi telah menjadi perhatian terus menerus sejak awal kemunculan ortodontik. Pada tahun 1881 W.H.Coffin menetapkan alat dengan central spring yang terbuat dari kawat piano yang mengekspansi maxilla, tetapi E.H.Angel pada tahun 1860, yang menetapkan pertama kali alat yang membuka sutura palatal. Meskipun begitu, awal abad ke-20, penelitian menyatakan bahwa ekspansi hanya menyebabkan perubahan pada tingkat dentoalveolar daripada tingkat skeletal.
Pada 1987, Haas meneliti efek dental dan skeletal dari ekspansi maxilla dan meneliti pembukaan sutura mid-palatal, perpindahan ke atas dan ke bawah maxilla dan rotasi mandibula. 8,9
Setelah itu, penelitian yang dilakukan untuk mencegah efek yang tidak diinginkan dari ekspansi yang cepat dan mencegah rotasi posterior mandibula dengan menggunakan dukungan high chin.
Tahun 1975, Rickets menggambarkan alat Quad-Helix10 sebagai suatu perawatan yang ideal untuk mengoreksi penyempitan gigi melalui prolonged gentle pressure . Pada tahun 1982 Greenbaun dan Zach Risson, meneliti efek ekspansi pada jaringan periodontal untuk pertama kalinya. 10 Penelitian yang dilakukan oleh Gronde Felasco pada tahun 2005 menunjukkan bahwa efek ekspansi Quad- Helix berada di atas semua gigi dan menghasilkan ekstraksi molar atas tetapi jika ekspansi dilakukan dengan ekspansi maxilla yang cepat setelah mengoreksi ketidakteraturan gigi, ekspansi skeletal diperoleh dan intrusi molar atas.
Berdasarkan klasifikasi maloklusi transversal yang diciptakan oleh Lorente pada tahun 2002 3,4,5,6 dikelompokkan menjadi crossbite unilateral dan bilateral (tabel 1). Berdasarkan klasifikasi ini, perawatan alternative disajikan dibawah ini.
Tabel 1. Klasifikasi Crossbite Posterior
DIAGNOSIS & PERAWATAN CROSSBITE POSTERIOR
Crossbite Unilateral (UCB) :
UCB dengan maxilla normal dan proses penarikan dentoalveolar
Tidak ada perubahan maxilla, karena maxilla tidak ditarik, tetapi penarikan ditemukan pada tingkat dentoalveolar pada bagian posterior. Jika pasien diamati secara oklusal akan ditemukan bhwa meskipun prosessus dentoalveolar menyempit, crossbite ditemukan pada satu sisi, sebagai hasil perpindahan lateral dari mandibula pada saat oklusi, 5 dan midline gigi tidak berada ditengah.
Secara klinis, proses dentoalveolar menyempit secara simetris, meskipun secara intraoral pasien menunjukkan crossbite unilateral.
Perawatan direncanakan untuk melebarkan dentoalveolar secara simetris selama tahap awal gigi bercampur untuk mengembalikan posisi mandibula, karena deviasi fungsionalnya dapat dilakukan walaupun dikoreksi pada tahap awal, pilihan alatnya dapat berupa:
a. Removable Appliance : Hawley appliance dengan sekrup ekspansi di tengah 7,8 diaktivasi ¼ putaran 2x seminggu.
b. Fixed appliance : Quad Helix fixed appliance dipasang pada M1 maxilla dengan 2 bands.9 Alat ini diaktivasi di klinik dengan menggunakan tang 3 jari. Kedua alat ini hanya digunakan untuk pelebaran dentoalveolar.10,12 Karena pelebaran dilakukan secara simetris, mandibula dikembalikan pada posisi oklusi sentrik (gambar 1).
UCB dengan maxilla normal dan proses dentoalveolar menyempit tidak simetris
Pada kasus ini tidak terdapat perubahan skeletal dari maxilla tetapi salah satu processus dentoalveolar posterior menyempit, mengindikasikan crossbite unilateral pada sisi yang menyempit.
Perbedaan diagnosis antara ini dengan kasus lain adalah bahwa crossbite unilateral tertahan jika mandibula diperbaiki ke relasi sentrik.
Perawatan direncanakan untuk melakukan pelebaran asimetris pada dentoalveolar yang menyempit. Alat-alat yang dipilih adalah:
a. Removable appliance : Hawley Appliance dengan lingual shield pada sisi yang tidak diekspansi, menyediakan anchorage untuk memperlebar sisi yang berlawanan.
b. Fixed appliance: Quad Helix 13,14: untuk ekspansi asimetris, modelnya harus dimodifikasi dengan menempatkan kawat bagian dalam pada sisi palatal dari Premolar atas, dan Kaninus pada sisi yang tidak diperlebar, untuk menjaga anchorage, dan memindahkan sisi kawat bagian dalam untuk diperlebar (Gambar 2).
UCB dengan maxilla menyempit dan salah satu sisi bukal dentoalveolar bergeser
Pada kasus ini pasien memperlihatkan perubahan skeletal mandibula seperti yang terlihat pada penyempitan maxilla dan processus dentoalveolar berada pada relasi yang tidak seimbang pada tulang basal; satu sisi memperlihatkan hubungan yang harmonis, jadi dapat ditemukan crossbite pada posisi ini, sementara sisi lainnya lebih ke bukal, ini memperlihatkan oklusi normal pada sisi lain. 5
Perawatan direncakan untuk melakukan :
• Pemindahan palatal unilateral dari processus dentoalveolar yang bergeser lebih ke bukal, menggunakan Quad Helix untuk mengoreksi penyempitan asimetris. Perubahan crossbite unilateral menjadi bilateral crossbite dengan penyempitan maxilla dan keseimbangan processus dentoalveolar dengan tulang basal. 15,16
• Setelah itu, pelebaran simetris dari tulang dasar maxilla seharusnya dilakukan secepat mungkin, ketika M1 maxilla erupsi, seperti perawatan orthopedic diindikasikan. Pilihan alatnya adalah Haas Expander 17 , Fixed appliance four-band dengan central expansion screw yang membuka sutura mid palatal ketika diaktivasi. Secara intraoral, adanya diastem antara Incisivus akan diamati (Gambar 3). Pada kasus ini, pemakaian alat berbeda lebih baik karena etiologinya berbeda.
Crossbite Bilateral (BCB)
BCB dengan penyempitan Maxilla
Maxilla menunjukkan penyempitan skeletal dan jika hubungan antara processus alveolar dan tulang basal harmonis, crossbite bilateral posterior skeletal 4 akan ditentukan secara intraoral.
Perawatan orthodontic, dirancang untuk mencapai keberhasilan dari ekspansi simetris skeletal maxilla. 18,19 Alat yang cocok adalah Haas expander untuk membuka sutura mid palatal, melakukan perawatan orthopedic lebih awal untuk mengoreksi penyempitan 20 tulang maxilla. Akhirnya, jika pasien memperlihatkan diskrepansi tulang/gigi, 2 tahap perawatan akan dilakukan dengan alat fixed orthodontic. (gambar 4)
BCB dengan penyempitan maxilla dan processus dentoalveolar bergeser lebih ke bukal
Penyempitan maxilla skeletal bisa terlihat tetapi processus dentoalveolar terlihat bukoversi, perkiraan untuk mengimbangi kekurangan tulang. Secara intra oral, pasien tidak akan memperlihatkan crossbite bilateral, tetapi pengamatan maxilla akan menunjukkan perkembangan defisiensi, menujukkan bentuk triangular yang bila di[perkirakan seharusnya diekspansi. 4
Perawatan total dapat diambil dari diagnosis banding dalam kasus ini, dekatnya molar ke tulang kortikal dan resorpsi alveolar dapat mengambil jika maxilla diperluas tanpa adanya pengimbangan balik dari processus dentoalveolar. Kriteria perawatan dapat seperti berikut:
• Pemindahan palatal dari processus dentoalveolar yang bukoversi untuk mengkoordinasikannya dengan tulang basal dan memperbaiki crossbite bilateral menggunakan Quad Helix untuk mengoreksi penyempitannya.
• Perawatan awal orthodontic, ekspansi basis tulang maxilla dengan Haas expander dan membuka sutura palatal 21,22 ketika M1 atas erupsi (Gambar 5).
BCB dengan penyempitan maxilla dan kelebihan mandibula
Pada kasus ini crossbite bilateral lebih disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari mandibula, yang sangat sulit untuk dirawat, daripada defisiensi maxilla. Meskipun persentase tertinggi dari kasus ini menawarkan tindakan bedah, perawatan ortopedik pada maxilla mungkin pada umur awal. 4 Kriteria perawatannya berupa :
• Dekompensasi dentoalveolar pada area posterior maxilla, jika penting menggunakan Quad Helix untuk mengoreksi penyempitan.
• Perawatan orthopedic untuk ekspansi maxilla, menggunakan Haas Expander untuk membuka suture mid palatal pada awal umur secepat mungkin, selama tahap gigi bercampur, agar mendapatkan posisi yang stabil. 23,24
• Jika perlu dilakukan perbaikan dengan alat orto cekat
• Penetuan kembali kasus untuk dilakukan bedah di kemudian hari.
Hasil
Diagnosis yang tepat dari crossbite adalah penting, karena jika kompensasi dentoalveolar terlihat ketika ekspansi dilakukan, hasilnya akan menjadi scissors bite.25,26 Sama halnya jika terdapat bukoversi dari prosesus dentoalveolar dan ekspansi dentoelveolar dilakukan, mungkin resorbsi ginggiva dapat terjadi pada bagian posterior, di premolar tetap, lebih sering di gigi kaninus, karena gigi-gigi ini sangat dekat dengan tulang kotikal. Karena itu diagnosa yang benar sangat penting agar dapat dipilih alat yang cocok.
Hal yang seharusnya diperhatikan bahwa sangat penting untuk mengoreksi crossbite pada umur awal, selama tahap awal gigi bercampur, ketika alat-alat ini (rapid maxillary expands) dapat digunakan untuk membuka sutura mid-palatal dan mengoreksi masalah transversal skeletal, 27 sutura dapat dibuka ketika ekspansi palatal dilakukan pada pasien yang masih tumbuh, dimana pasien dewasa hanya mungkin dilakukan ekspansi dentoalveolar daripada skeletal, yang membatasi perbaikan maloklusi.
Sebagai akibatnya, hal-hal yang harus dilakukan :
• Semua perubahan transversal seharusnya dirawat secepat mungkin, idealnya selama gigi bercampur
• Jika perubahan transversal adalah skeletal, perawatan seharusnya dilakukan lebih awal, secepatnya pada saat M1 atas permanen erupsi. Perawatan awal penting untuk hasil yang lebih baik.
• Jika masalah transversal adalah dentoalveolar kemudian perawatan dapat ditunda hingga gigi permanen, tetapi hanya pada pasien yang masih tumbuh.
• Masalah dentoalveolar transversal dikoreksi dengan alat Hawley dengan skrup ekspansi atau dengan Quad Helix
• Untuk masalah skeletal transversal, alat yang dipilih adalah rapid maxillary expander
• Jika perubahan transversal disertai dengan vertical atau anterior posterior maloklusi, perubahan transversal pertama-tama harus dirawat.
• Setelah mengoreksi maloklusi transversal pada umur awal, hasilnya harus diseimbangkan dengan retainer hingga semua gigi permanen digantikan oleh gigi sulung.
Referensi
1. Bravo LA. ed. Manual de Ortodoncia. Madrid: Síntesis; 2003. p. 617-48.
2. Angle EH. Classification of malocclusion. Dent Cosmos 1899; 41:248-64.
3. Lorente P. Clasificación y tratamiento de las maloclusiones transversales. Rev Esp Ortod 2002;42:179-81.
4. Lorente P. Clasificación y tratamiento de las maloclusiones transversales. Mordidas cruzadas bilaterales (MCB). Rev Esp Ortod 2002;42:182-95.
5. Lorente P. Clasificación y tratamiento de las maloclusiones transversales. Mordidas cruzadas unilaterales (MCU). Rev Esp Ortod 2002;42:196-210.
6. Lorente P. Clasificación y tratamiento de las maloclusiones transversales. Mordidas cruzadas completas (MCC). Rev Esp Ortod 2002;42:211-23.
7. Quiros OJ. ed. Ortodoncia nueva generación. Caracas: Amolca; 2003.p. 3-23.
8. Haas JA. Palatal expantion: Just the beginning of dentofacial orthopedics. Am J Ortod 1967;26:219-55.
9. Huertas D, Ghafari J. New posteroanterior cephalometric norms: A comparison with craneofacial measures of children treated with palatal expansion. Angle Orthod 2001;71:285-92.
10. Greenbaun KR, Zachrisson BU. The effect of palatal expansion therapy on the periodontal supporting tissues. Am J Orthod 1982;81:12-21.
11. Giron de Velasco J. Cambios óseos y dentarios con disyunción y quad-hélix: estudio comparativo de una muestra de 41 pacientes. Rev Esp Ortod 2005; 45:64-73.
12. Cervera-Sabater A, Simon-Pardell M. Quad-Helix. Biomecánica básica. Rev Esp Ortod 2002;32:253-62.
13. Haas JA. Palatal expansion: Just the beginning of dentofacial orthopedics. Am J Orthod 1970;57:219-55.
14. Asher C. The removable Quadhelix appliance. Br J Orthod 1985;12:40-5.
15. Jones SP, Waters NE. The quadhelix maxillary expansion appliance: Part mechanics. Europ J Orthod 1989;11:169-78.
16. Ingerval B, Gölner P, Gebauer U, Frölich K. A clinical investigation of the correction of unilateral first molar crossbite with a transpalatal arch. Am J Orthod Dentofac Orthop 1995;107:418-25.
17. Hass AJ. Rapid expansion of the maxillary dental arch and nasal cavity by opening the midpalatal suture. Angle Orthod 1961;31:73-90.
18. Wertz R. Skeletal and dental changes accompanying rapid midpalatal suture opening. Am J Orthod 1970;58:41-65.
19. Wertz R, Dreskin M. Midpalatal suture opening: a normative study. Am J Orthod 1977;71:367-81.
20. Zimring JF, Isaacson RJ. Forces produced by rapid maxillary expansion. Angle Orthod 1965;35:178-86.
21. Chang JY, McNamara JA, Herberger TA. A longitudinal study of skeletal side effects induced by rapid maxillary expansion. Am J Orthod Dentofac Orthop 1997; 112:330-37.
22. Linder-Aronson S, Lindgren J. The skeletal and dental effects of rapid maxillary expansion. Br. J Orthod 1979;6:25-9.
23. Ladner PT, Muhl ZF. Changes concurrent with orthodontic treatment when maxillary expansion is a primary goal. Am J Orthod Dentofac Orthop 1995;108:184-9.
24. Majourau A, ,Nanda R. Biomechanical basis of vertical dimension control during rapid palatal expansion therapy. Am J Orthod and Dentofac Orthop 1994;106:322-28.
25. Bell RA, LeCompte EJ. The effects or maxillary expansion using quad-helix appliance during the deciduous and mixed dentitions Am J Orthod 1981;79:152-61.
26. Mossaz-Joelsön K, Mossaz CF. Show maxillary expansion: a comparison between banded and bonded appliances. Eur J Orthod 1989;11:67-76.
27. Thailander B, Wahlund S, Lennartsson B. The effect of early interceptive treatment in children with posterior cross-bite. Eur J Orthod 1984;6:25-34.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar